Saturday, January 26, 2019

No Game No Life Vol.4 - Bab 3 - Charmer/ssǝɹdɯƎ ǝɥ⊥ - Part 2


Bab 3 - Charmer/ssǝɹdɯƎ ǝɥ

Part 2

“Halo~ semuanya~, hehe ☆ saya adalah perwakilan yang mulia Ratu, Amira des~! Semuanya OKE~ ☆”

Mereka cuma Idiot.

Sora berhasil memiliki gambaran jelas tentang mereka.

Setelah Jibril menghilangkan gelembung udara, para Seiren segera menyingkir.

「Orang ini」 yang menyebut dirinya Amira, jika perkataanya bisa dipercaya—tapi bagian yang menakutkan adalah ia mungkin—ia adalah perwakilan penuh Seiren saat ini.

Ia memiliki rambut hijau muda, kulit seputih salju yang nyaris transparan, dan mata biru jernih.

Ia mengenakan perhiasan coral di tubuhnya, tapi ia tidak mengeluarkan aura vulgar.

Mengingat ia seorang Mermaid, itu mungkin akan menjadi pas dengan pakaiannya, tapi kepribadiannya itu—

“Terimakasih karna kalian udah dateng, beneran deh terimakasih Banget~ ☆ ~~~ beneran, cuma satu cara yang bisa mengungkapkan perasaanku sekarang yaitu dengan ciuman~! Fufu ☆ boleh?”

"... Tidak, terima kasih, aku menghargainya walaupun kau menginginkannya..."

Itu bukan soal semacam kehormatan atau semacamnya, meskipun cara ia berbicara seperti Imanity, semua tentang itu aneh.

Sora dan lainnya terkejut, sementara Amira terus berenang kesekitar.

"Bahkan di dalam laut, rumor tentang penaklukan kalian mencapai sini~ ☆Raja ajaib yang menyelamatkan Imanity terdengar seperti orang tampan hanya dengan mendengarnya, dan penampilan anda sesuai dengan preferensi Amira~!! Deh☆”

"...Oh benarkah?"

Ini pertama kalinya dia dipanggil tampan oleh seorang gadis... Tapi kenapa?

Dia tidak senang sama sekali... Memikirkan hal lain, Sora mengangguk setuju.

“Aha ☆ suaramu juga sangat keren!! Amira jadi basah~ ah, karena aku dilaut~ hehe☆”

Sora melirik Plum tanpa berkata, sementara ia mengalihkan pandangannya sambil menggelengkan kepalanya dalam kesedihan.

“Oh~ kami juga menyiapkan sebuah pesta, hehe ☆ mungkin kau juga menginginkan makanan? A•tau•mung•kin•di•ri•ku? ♥”

Amira mengguncang tubuhnya mencoba merayu Sora. Sementara Ino sengaja menampakan eksperesi bejat diwajahnya, dan suhu tubuhnya naik—

"Pertama mari kita lihat 「Empress」 dulu, sambutanmu bisa menunggu setelah itu."
(TL: empress, sejenis petinggi tapi wanita kelaminnya. Ratu/Permaisuri gitu.)
Mendengar penolakan tegas Sora, Ino menggoyang telinganya kaget. Tapi Amira tidak keberatan.

“Ah, kau benar-benar fokus seperti yang mereka katakan☆ Amira jadi semakin menyukaimu, kau tahu☆”

“…benarkah…, sekarang tolong antar kami kesana.”

“OKAY~ ☆ jadi mari kita berenang ke kota~ ikuti aku~ fiuh~ ♥”

Dengan Amira yang memimpin jalan, Sora dan lainnya turun dan menuju Oceando.

Sora mendengar Ino berbicara dibelakangnya.

"... Sora-san, menakjubkan sekali kau bisa menolaknya dengan cepat."

"Hah?"

"Bahkan di laut indra Werebeast jadi terbatas, jadi aku tidak bisa mengerti maksud Sora-san... Tapi melihat kau digoda oleh seorang wanita, kau masih bisa tetap tenang, Sora-san, apakah kau memiliki pengendalian-diri super-"

Namun Sora membelalak ke Ino dingin menanggapi, dan berbicara seolah-olah meludah.

"Orang tua, apa kau putus asa, meski aku masih perawan, tapi siapa yang kau bayangkan dengan standar itu... Ayo, Shiro."

"...Mm..."

Meninggalkan Ino, Sora berenang menuju kota membawa Shiro—

List -
Read More

No Game No Life Vol.4 - Bab 3 - Charmer/ssǝɹdɯƎ ǝɥ⊥ - Part 1


Bab 3 - Charmer/ssǝɹdɯƎ ǝɥ

Part 1

—「Oceando」… Kota bawah laut dimana Ras Seiren dan Dhampir berada.

Bukan untuk berdagang ke tempat lain, namun menjadi penyelamat sebuah negara.

Kedalam dasar laut, itu tidak dapat di capai dengan cara-cara normal.

Dan jelas karna itu, sekelompok orang yang datang juga tiba dengan cara tidak normal.

Jibril membelah laut, dan tempat ia ber-teleport seperti menara tinggi yang cukup untuk melihat keseluruhan Oceando.

Kedalamannya sekitar 200 meter, dan jika dihitung dari air laut yang menutup kembali...

"Sesuatu seperti ini bisa terjadi ..."

Miko, berdiri di belakang Sora yang mengeluh, dan apa yang ia lihat—sisi lain dari gelembung udara yang Jibril buat.

Pasir dan bebatuan dasar laut porak poranda seolah olah baru saja menghadapi blender raksasa.

Seberapapun kuatnya Jibril, ia tidak akan bisa menggunakan kekuatannya karena kekuatan 「Komandemen」.

Karna 「Komandemen」, tidak ada yang bisa membahayakan siapapun...

"... Kau pasti sangat yakin ini tidak akan menyebabkan kerusakan pada kota atau seseorang, kan?"

"Tidak, tidak sama sekali. 「10 Komandemen」 adalah mutlak, jadi itu akan baik-baik saja. Tidak akan ada masalah... Mungkin."

Sora berusaha mengibur dirinya sendiri saat air mulai menenang di sekitarnya. Pasir mengendap dan air laut menjadi jernih lagi.

"—Oh, ini sungguh menarik."

"...Indah sekali..."

Sora dan Shiro mengutarakan pemikiran mereka mengenai besar dan megahnnya kota di bawah mereka.

Sama sekali berbeda dari cerita dongeng, ini sungguh sebuah 「Kota besar」—pikir Sora.

Puluhan bangunan yang tampak di bangun dari batuan dasar laut berjejer disana.

Dinding yang memancarkan kilauan mutiara dan karang yang ditempatkan seperti bata, menciptakan cahaya indah dan bebagai warna cerah. Formasi kompleks serta rumah rumah berbentuk kerucut bisa terlihat—lalu Sora berkata:

"... Hmm? kenapa tidak semuanya biru?"

Di dasar laut, hanya sinar biru laut dari cahaya matahari yang bisa menyinari. Seseorang yang menjawab pertanyaannya adalah Shiro.

"...Nii, itu mungkin...Mereka."

Shiro menunjuk rerumputan laut dan ubur-ubur yang bersinar— itu adalah 「Lampu jalan」 yang benar-benar alami.

—Tidak mengherankan kenapa kota itu bisa bersinar.

"Oh, ayolah, jangan memperlakukanku seperti idiot. Anyway, tidakkah kota ini tampak begitu hebat?"

"...Hah, terima kasih atas pujiannya..."

Plum menjawab dengan senyum pahit seakan akan kalah dan dihina..

"Karena tempat ini dibangun dan dikelola oleh Dhampir...Haha..."

...Sora tidak bisa menemukan kata-kata untuk menyanggah perkataannya, dan malahan berbalik.

Jibril, Izuna, dan Steph yang mengamati sekelilingnya mereka tercengang, sementara Miko tenang seperti biasa.

Dan—

“—Sora-san…apa maksudnya…ini...?”

Ino bertanya kesakitan, mungkin dampak dari suara bising saat mereka ber-teleport.

"Aku meng'iya'kan permintaan mu karna Miko dan Izuna tampak baik-baik saja, harusnya kau berterimakasih pada Jibril!"

"... Ah~ aku tidak masalah, tapi biarkan aku mengatakan sesuatu?"

Miko menatap Sora, Shiro, dan Jibril bergantian, dan mengambil napas dalam dalam. "Orang-orangmu, kalian sebaiknya membatasi kebebalan kalian?"

"Eh?"

"...apa ada...masalah?"

"Oh, apakah subgenus karnivora anjing kampung punya keluhan?"

Tiga orang bebal memiringkan kepalanya dalam keingintahuannya.

Sementara orang dengan akal sehat—Steph lantang berbicara seolah-olah mewakili Miko.

"M- membelah laut seperti itu, tidak peduli bagaimana kau melihatnya itu seperti menantang permusuhan!? Jadi, bagaimana kau bisa mendekati Ratu mereka sekarang?"

"Mereka yang mengundang kita, dan membuat kita menunggu lama, jadi karena kita kehabisan waktu, kita datang kesini dengan terburu-buru. Berkat kerja keras Jibril, mereka seharusnya berterimakasih kepada kita dan menerima kita dengan lagu dan tarian, iya kan?"

Indra Miko dan Izuna mengatakan kepada mereka bahwa Sora menyemburkan kebohongan lagi, dan merekapun menutup mulut mereka setengah hati.

Werebeast yang tersisa—Ino terus menggosok telinganya sambil mengerang kesakitan.

"... Ah~ tentang itu kau tidak usah khawatir... Lihat disana."

Tapi saat mereka mendengar Plum berbicara, semua orang melihat kearah yang ia tunjuk.

Banyak orang mulai melesat keluar dari kota dan dengan cepat mendekati mereka.

—Wanita dengan bagian bawah tubuh ditutupi dengan sisik yang menyerupai ekor ikan, dan bagian atas berbentuk manusia.

Payudara mereka terbungkus oleh kain tipis, leher dan tangan mereka berhiaskan perhiasan.

Rupa mereka sama persis dengan makhluk dalam dongeng—「Mermaid」.

"... Ah, jadi mereka adalah Seiren? Bagus, untungnya seperti yang diperkirakan."

Jika yang keluar adalah makhluk seperti Cthulhu Sora sudah lebih siap dari membalik kartu, tapi dia merasa lega pada perkembangan ini.
(TL: cthulhu, andelin Wiki.)

"S- semuanya lihat kesana, mereka sedang panik... Mereka pasti sangat marah."

Steph berbicara gelisah sambil melihat Seiren yang berdiri didepan gelembung udara mereka, kemudian—

“Eh, eh…?”

Steph melebarkan matanya terkejut.

Seiren berenang dengan anggun memutari mereka didalam air, memamerkan sisik berkilauan mereka.

Perhiasan berwarna warni yang terbuat dari karang dan mutiara memperlihatkan kelembutan kulit putih salju mereka.

Tidak ada ritme yang tetap dari gerakan mereka.

Ubur-ubur yang bersinar dan di terangi cahaya laut, sekumpulan ikan berbagai warna, belum lagi Mermaid berenang dengan sangat indah—Pemandangan yang dapat menarik perhatian siapapun, yang disengaja—

"...Nii, ini tarian rasa sukur dan penyambutan...mereka"

“—rupanya begitu... L- lihat, Steph, benar kan tidak akan ada masalah!"

"Orang orang ini begitu pemaaf..."

Setelah beberapa saat, seorang Seiren dengan perhiasan paling gemerlap berenang—
Ia melambaikan kedua tangannya, dan mulutnya membuka dan menutup secara acak.

Mengamati gerakannya, Steph memiringkan kepalanya, tidak mengerti apa yang terjadi, sementara Sora mengambil tindakan.

"Kami berada di udara yang Jibril ciptakan, dan mereka di luar sana di dalam air—terdengar tidak bagus."

"Yah... Aku akan menjelaskan ke mereka dan meminum darah selama perjalanan sehingga aku dapat menggunakan sihir yang memungkinkan kalian semua bisa bernafas dalam air, jadi tolong biarkan aku melewati gelembung udara ini..."

Saat ia menyelesaikan kalimatnya, Plum bergegas kedepan, menerobos gelembung udara dan berenang ke dalam air.

Mereka meliriknya saat ia pergi.

"Bahkan jika kita adalah penyelamat ras mereka..."

“—Mereka masih menyambut kita sehangat ini setelah gerbang kota mereka dipaksa terbuka dengan serangan seperti itu?"

Mendengar Jibril dan Miko berbisik dengan tatapan tajam di wajah mereka, Sora tertawa dingin.

"... Seiren, apakah mereka benar-benar idiot? Atau—“

List -
Read More

No Game No Life Vol.4 - Bab 2 - Strategist/The Sun - Part 3


Bab 2 - Strategist/The Sun

Part 3

—Matahari hampir tenggelam di bawah permukaan laut.

"...Fiuh, Sunset sangat indah... Heheheh..."

Duduk di pantai sambil memeluk lutunya seolah olah melarikan diri dari dunianya sendiri, apa yang ada di wajah Steph... adalah sebuah senyum.

—Tiba-tiba Sora berteriak.

"—Membosankan sekali."

Mendengar itu, semua orang berpaling melihat Sora.

"Ugh, menyebalkan, setelah menang kau mau lari, des."

Selama ini sampai matahari terbenam, Sora dan Izuna bermain dengan DSP, Shogi, tic-tac-toe dan permainan lainnya di bawah pohon-pohon, semua kegiatan ini membuat satu pertanyaan, mengapa mereka repot-repot datang ke laut, dan ketika mendengar seruan Sora, Izuna protes, menolak menyerah.

"Ah, bukan, itu bukan karena aku bosan bermain dengan Izuna."

Sora berdiri saat berbicara dan berteriak pada peti kayu.

"Oi, Plum, harusnya kapal penerima sekarang sudah disini kan?"

"""Ah!"""

—Tampaknya semua orang melupakan tujuan awal mereka dan berseru tanpa sadar.

Plum mengeluarkan kepalanya dari bawah peti.

Mungkin karna ia terus menggunakan sihir dalam jangka waktu lama, ekspresi kelelahan Plum sekali lagi mengingatkan semua orang saat mereka pertama kali bertemu. iapun menjawab.

"Um, A, aku kan udah bilang mereka akan datang tengah malam..."

"Baterai handled dan PC tablet ku sudah hampir habis, dan aku mulai bosan."

"Itu sebabnya aku bilang kita datang terlalu awal..."

Plum mengeluh tidak puas.

Sementara Sora bertingkah seperti anak kecil.

"Tidak, aku bosan, berangkat sekarang atau aku pulang."

"Kenapa kau mengatakan sesuatu yang kekanak-kanakan seperti itu..."

Plum merengek, sementara Sora mengabaikannya dan bertukar pandang dengan Miko dan Shiro.

Sejak di tepi pantai, Shiro sedang mengelus Miko dibawah pepohonan, dan itu sudah berjalan sepanjang waktu.

—Mereka mengangguk dan berbicara secara bersamaan.

"Ya... Sangat membosankan disini."

"...Mm...Shiro...Lelah..."

"Eh... Mengapa kalian berdua mengatakan hal berbeda..."

Plum patah hati, sementara Sora membuka mulut dan berbicara.

"Jibril"
"Sini"

Karna panggilannya, Jibril segera muncul di udara.

"Kau menemukan posisinya?"

"Ya, seperti yang Master perhitungkan, harusnya tepat."

—Perhitungkan?

Plum tampak bingung, sementara Sora mengeluarkan PC tablet nya.

Berdasarkan peta yang merincikan batas Federasi Timur, catatan perdagangan mereka dengan Oceando, dia dapat menyimpulkan posisi 「Kota」 itu secara kasar.

Menunjuk ke arah yang di posisikan, Sora memandang kearah cakrawala dan mengatakan.

"Ok, itu sudah cukup—lakukan."

"—Dimengerti —hehe?!"

Mendengar kata-kata Sora, Jibril tidak bisa menyembunyikan ekspresi gembira di wajahnya saat berlutut menerima perintahnya.

"Eh? A, apa yang akan kau lakukan...?"

「Insting」 Ino sebagai werebeast memperingatkan akan sesuatu.

Tampaknya, situasi ini harus di hentikan. Apapun yang dilakukan orang-orang itu—pasti sesuatu yang tidak bagus.

Jadi Ino melirik Miko.

Dia menghela napas lega setelah melihat Miko mengangguk sedikit menyiratkan 「Tenang saja」.

Tetapi saat dia melihat Miko tersenyum seakan mengatakan「Hati-Hati」, Ino memucat.

Sora menggendong Shiro, dan berbicara.

"Kita akan pergi sendiri, semuanya mundur."

Setelah itu, Sora dan lainnya meninggalkan pesisir pantai, lalu Jibril bertanya.

“— Master, apakah benar benar tidak apa melakukan ini?"

Ia terlihat tidak bisa bersabar—Namun ia masih meminta konfirmasi terakhir dengan penuh semangat.

"Tidak apa, selama 「10 komandemen」 masih berlaku."

「Nomor 1」 dari 10 kemandemen.

—Semua pertumpahan darah, peperangan, pencurian di larang di seluruh dunia.

"Tindakan apapun yang merugikan dan melibatkan kekerasan, akan dihentikan oleh kekuatan Komandemen—sebaliknya, tindakan yang tidak membuat kerusakan tidak akan dihentikan. Yang berarti 「Tuhan (Tet)」 telah menjamin itu kalau kita melakukannya, tindakan itu tidak akan dianggap sebagai melanggar hak orang lain, jadi-"

Sora menampakan senyum keberanian, dan mengacungkan jempol.

"Buat sebesar yang kau bisa."

Mendengar jawabannya, Jibril seakan-akan menerima perintah sakral sambil membungkuk, tapi ekspresinya kontras dengan tindakannya saat ia tersenyum lebar. Jibrilpun berdiri.

“Hahah, hahahahah~ aku tidak tahu sudah berapa tahun sejak terakhir aku menggunakan ini, hehehe~ aku menantikan ini~..."

Jibril memiliki ekspresi berlebihan di wajahnya. Pada saat itu di sekitarnya—

—Tiba-tiba terdistorsi.

Itu seperti cahaya—tidak, lebih seperti ruang kosong disekitarnya terpelintir, semuanya terdistorsi sekaligus berubah bentuk.

—「10 Komandemen」.

Penggunaan kekerasan di dunia—tindakan apapun yang menyebabkan kerusakan akan dihentikan dengan kekuatan komandemen.

Mengenai itu, Ino mengerti dengan sempurna, tapi ketika secara pribadi menghadapi peristiwa itu, bulu kulitnya merinding.

"Oke, semuanya mundur!"

Miko memerintahkan dengan tenang tapi tajam.

Kalimat ini, membuat semua Werebeast, seola-olah membuat kehendak tubuh mereka terpisahkan, dan secara reflek melompat mundur.

"...Eh? Apa yang terjadi?"

Karena teriakan Miko, Steph akhirnya kembali tersadar.

—Ia menyadari bahwa ia satu-satunya orang yang paling dekat dengan laut.

Wooshh—suara yang terdengar begitu keras membuat area sekitar berguncang.

Pasir pantai bahkan mengabaikan gravitasi dan mulai menari-nari disekitar.

Ruang yang perlahan terdistorsi dan berubah bentuk mulai berkumpul di tangan Jibril.

Plum adalah satu-satunya orang yang bisa melihat sihir—satu-satunya yang bisa melihat Roh.

Tapi saat ia melihat apa yang dilakukan Jibril, ia masih tampak kebingungan.

Dilihat dari penjelasan Sora sebelumnya... Itu tidak mengherankan.

Apa yang Jibril lakukan—adalah 「menyerap semua Roh di sekitarnya」.

Ketika Roh yang seharusnya berada di tempat diserap dan terhapus, maka seseorang biasanya tidak akan bisa melihat apapun, itu akan terlihat seperti lubang hitam.

Dan—ditangan Jibril, Roh serapan yang sedang dikompresi, dipadatkan, dikecilkan, dikonsentrasikan, akhirnya mengeluarkan pancaran cahaya.

Meskipun Imanity tidak dapat melihat Roh, Sora dan Shiro mampu melihat jelas apa yang terjadi.

Di tangan kanan Jibril, pusaran seperti tombak cahaya secara bertahap mulai terbentuk.



Hal-hal yang berkaitan dengan sihir dan Roh, Sora dan Shiro tidak bisa memahami ataupun melihat mereka, tapi—

Lingkaran cahaya di kepala Jibril menjadi berputar sangat cepat.

Yang hanya bisa berarti satu hal.

"... Hey, eh? Kamu bercanda! Eh? Eh~~!?"

Plum akhirnya mengerti apa yang terjadi, ia segera berlari mencari tempat berlindung, ia berteriak bukan karna tidak dapat keluar dari Peti.

Ya, adegan ini hanya bisa berarti satu hal.

Dan Jibril bersiap melemparkan sihirnya yang, setidaknya Sora dan Shiro, tidak pernah lihat sebelumnya, yang sama sekali diluar nalar dan akal sehat.

Entah tombak atau pedang, cahaya itu belum sepenuhnya terwujud.
Tapi Jibril menggenggam erat dengan tangan kanannya.

Dan—ia perlahan mengangkatnya—menampakan senyum manis diwajah.

"Lalu Master ..."

"Aku akan menggunakan—「Sekitar lima persen」dari kekuatan penuhku."

Tangan kanan Jibril turun dengan kecepatan secepat meninggalkan kata-katanya dalam debu.

Sora dan lainnya hanya bisa menyaksikan dari jauh.
Dentumannya terdengar setelah kilatannya menyambar.

Beberapa detik kemudian, bersama ledakan besar yang cukup membuat gempa, ombak setinggi langit datang untuk menyapu—

「Laut pun terbelah」. Kemudian—

“Kyaaaaaaaaaahhhh!”

“Aaaaahhhhhhhhhh!”

Dampaknya, Ombak besar menyapu Steph dan Plum yang masih berada dalam Peti dekat Sora dan lainnya.

—Ini adalah apa yang mereka rasakan setelahnya.

"Fiuh ...? Sangat menyenangkan bisa menggunakan kekuatanku."

Merasa begitu lega, Jibril tersenyum cerah di wajahnya.

"Ku harap akan ada waktunya—dimana aku bisa menggunakan 100% kekuatan penuhku?"

Mendengar itu, Sora dan Shiro mengeluarkan keringat dingin.

Hanya 5% cukup membuat laut terbelah, bahkan Musa saja akan malu mendengarnya.

Mereka tiba-tiba teringat—Jibril sebelumnya melepaskan kekuatan penuhnya pada Elf, yang berarti itu adalah 「Serangan Udara」 terkuat yang pernah ada.

Mereka tidak sepenuhnya memblokirnya, tapi mereka berhasil menangkisnya sebagian—

"...Elf...Kelompok Fii benar-benar menakjubkan."

"...iya.."

Mereka berdua tidak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka—sementara Shiro mengangguk mengagumi Fii yang tidak ada saat ini.

Jibril tentu tidak tahu apapun.

"Dengan begini, sekarang aku bisa 「Melihat」 ibukota Seiren, jadi aku bisa menteleport kalian kapan saja."

...Kelima indra werebeast yang melebihi fisik biasa, Tidak bisa berkata, Ino, Izuna dan bahkan Miko yang hanya bisa melihat cakrawala.

Mungkin itu karena benturan cahaya sebelumnya dan Jibril yang bisa berkata ia dapat 「Melihatnya」, membuat orang lain jadi tidak bisa berkata apapun.

—Sora memandang semua orang yang telah mundur sebelumnya.

"Ok, semuanya, mari kita pergi, pegangan pada Jibril."

Miko dan para werebeast merasa dikalahkan, mereka kembali ke pantai dengan ragu-ragu.

"Aku tahu ini sejak lama... Tapi melihatnya sendiri, ini seperti lelucon buruk."

"...Ugh... Tindakan terbaik adalah tidak terlibat dengan Flugel sama sekali ..."

Plum memanjat keluar dari peti kayu yang rusak dan berbicara setelah Miko, beruntungnya, matahari sudah terbenam.

Ino kemudian berteriak dengan panik.

"Sora-san! Jangan biarkan Miko-sama mendengar 「suara itu」!"

Ino berseru, tampak takut akan suara dari distorsi ruang yang dibuat oleh teleportasi jarak jauh.

"Ah, dia benar, Jibril."

"Baik, saya mengerti, jadi—semuanya, mohon untuk pegangan erat... Ah, hei, Dora-chan berhentilah tidur, bangunlah."

"...Eh? Hah? Apa yang terjadi—A, apa ini!? Laut terbelah!?"

Steph berteriak sendiri, sementara orang lain mengabaikan reaksinya dan berkumpul disekitar Jibril.

"Jadi kita akan ber-teleport sekarang, menuju ibukota Seiren—Oceando"

Sayap Jibril mulai bercahaya lagi, dan Halo-nya berputar semakin cepat dan makin cepat.

"Jaraknya 378.23 kilometer, tapi air laut mulai kembali normal."

Seakan menanggapi kata katanya, air laut bergemuruh dan mulai kembali ke posisi semula.

"Jadi, aku rasa Oceando tidak memiliki udara kan?"

"Ah, tidak apa, aku memiliki mantra untuk bernapas di dalam air—“

Entah mereka mendengar Plum atau malah mengabaikannya.

"Jadi—aku akan menteleport siapapun di radius dua ratus meter kan?"

"—Eh?"

"Mundur!"

Miko berteriak sekali lagi.

Mendengar ini, selain Ino dan Izuna—para werebeast yang berada di tepi pantai buru buru menjauh.

—Dalam sekejap.

Dengan meninggalkan suara ledakan frekuensi tinggi yang meninggalkan kerusakan, kelompok itu menghilang.

“”Kyaaaaaahhhhhhhh!””

Saat udara hilang lalu terisi kembali, ledakan udara ringan tercipta.

Tornado kecil bertiup, dan betina werebeast yang tersisa meraih batang pohon untuk bertahan—sementara orang yang bisa menyebabkan adegan itu... telah pergi.

List -
Read More

No Game No Life Vol.4 - Bab 2 - Strategist/The Sun - Part 2


Bab 2 - Strategist/The Sun

Part 2

Pantai putih yang menyilaukan.

Sorot cahaya di permukaan laut, memantulkan langit seperti cermin.

Melalui langit biru yang seolah-olah ditaburi dengan cat, cahaya matahari menembus melewatinya, dan awan-awan mengambang di kejauhan.

Ditemani suara bising gelombang, pemandangan dengan kicauan burung camar, dan beberapa riak terpercik. Sekelompok orang sedang bermain di bagian pantai di mana air hanya sampai pergelangan kaki mereka, dan Shiro memukul bola pantai yang mereka bawa kearah orang lain.

"...Steph...Tangkap."

"Aku hanya perlu mengembalikannya dari bawah kan? Aku akan mengopernya, Oke, Izuna?"

Dengan cepat menangkap pukulan Shiro, Steph mengoper bola keudara menuju Izuna.

Izuna mengulurkan tangannya untuk menangkap bola yang terbang ke arahnya.

Ia memiringkan kepalanya.

"...? Aku tidak tahu aturannya, des."

Mungkin karena ia berbeda dari Steph yang bisa membaca situasi berdasar tindakan orang lain, karena ia sama sekali tidak mengerti, Izuna berbicara agak bingung.

"Ah~ pada awalnya kita memang tidak berniat bermain... Tapi gimana yah, kau tidak boleh menangkap bola, sentuhlah sekali dan operlah keorang lain, siapapun yang tidak bisa menangkisnya dianggap kalah—sesuatu seperti itu."

"...Aku mengerti, des..."

Steph tersenyum dan memandang Izuna yang mengangguk setuju.

"Ini memang memberikan rasa tenang... Bukankah bagus bermain santai seperti ini sesekali?"

—Walaupun begitu, Steph masih memiliki ekspresi ceria di wajahnya, tapi ia masih belum menyadari.

Tatapan Sora, Shiro dan Izuna, telah berubah menjadi setajam pisau.

Karena aturan sudah ditetapkan, ini—sekarang ini akan menjadi 「Game」.

Yang berarti—

—Aku harus menang-!

Selain Steph yang masih santai, tiga dari mereka—mengeluarkan semangat membara...

"...Lalu...Shiro akan memulai..."

Shiro berbicara sambil meminta bola kembali, diam-diam bertukar pandang dengan Sora.

—Shiro mendapat bola kembali, acuh tak acuh mencelupkannya ke dalam air laut.

"...Ini...Steph, tangkap..."

Dan begitulah, bola pantai yang terbuat dari kertas dengan bagian bawah basah yang terbang kearah Steph melayang tanpa berputar sedikitpun.

Itu bahkan terbang secara akurat—mengingat tidak ada angina sesaat itu juga.

"Oke, aku akan memukulnya~?"

Itu merupakan rencana tanpa kata-kata, tapi Steph memukul bola tanpa menyadari apapun.

Shiro yang telah mengacaukan bolanya—jika Steph memukul bola secara langsung, bola akan sedikit melenceng dari yang ia targetkan.

Akibatnya, bola operan Steph ke Izuna sedikit melenceng di udara.

—Karena bagian bawah bola telah menyerap berat air, pergerakan bola akan jadi tidak teratur.

“-!”

Izuna langsung menyadari pegerakan arah bola.

Ia menghentakan kakinya, itu menciptakan percikan kecil, meraih bola dan berhasil.

Itu Penyelamatan yang normal, dengan enteng Izuna mengembalikan bola..

Tapi, tubuh mungil Izuna telah mengeluarkan kekuatan werebeast yang cukup besar ketika menyelamatkan bola.

—karena itu, bola terbang pada kecepatan tinggi saat mendekati Sora.

Namun Sora tetap tenang, dan menggerutu sendiri. (Jadi ia tidak akan membiarkan kami menang begitu mudah!)

Penyelamatan Izuna seolah-oleh menjadi Smash mematikan seperti pemain voli profesional, dan ketika bola mulai mendekat, Sora dengan sengaja melesat kedalam air, dan menciptakan cipratan besar.

Bola melewati cipratan itu—dan terus bergerak maju, tapi ketika itu mendekati posisi Sora, itu sekarang mendekati kecepatan normalnya.

Sora hampir tidak berhasil menggunakan kakinya untuk memukul bola kearah Shiro.

—itu adalah bola yang sangat berat karna telah menyerap air.

"...Mm! Steph...Tetap disitu..."

Shiro memukul bola yang telah menjadi berat menuju Steph dengan sekuat tenaga.

“Eh? Ah, eh!?”

Ya—ia mengarahkan bola kearah posisi dimana hanya Steph yang bisa menangkapnya.

Dilihat dari sudut datang dan sudut melengkung, bahkan jika Steph bisa memukulnya—

"Ah, maaf Izuna-"

Bahkan jika dia bisa memukulnya, itu hanya akan terbang menjauhi Izuna.

—dan tidak bisa menangkapnya.

Bola terbang kearah dimana tidak mungkin bisa ditangkap, tapi—

—ketika melihat Sora dan Shiro yang mulutnya meringkuk dalam kemenangan, seolah olah bergumam, 「Kami menang」, Izuna mengeratkan giginya.

"...Jangan pandang rendah gadis kecil ini—des!!"

Ia mendorong tanah dan melangkah maju—menciptakan dorongan kuat.

Air yang awalnya mengelilingi kakinya seketika meledak, menampakan permukaan di bawahnya.

Izuna mendorong kedepan seakan berniat melampaui kekuatan yang baru ia buat.

Mengejar bola yang hampir mendekati permukaan laut, Izuna mempertahankan kecepatan dan mengulurkan tangannya.

Ayunan tangannya cukup kuat untuk menciptakan gelombang

—Tapi—

Dengan Boooom...

Air disekitarnya menguap menjadi kabut, dan saat ia melihat bola ditangannya yang telah meledak, Sora berteriak.

"Ok, Izuna telah kalah!"

"-? ...! K,kau curang, des! Kau hina, des!"

Menyadari apa yang terjadi, Izuna protes tidak puas.

Shiro menjawab setelah bertukar tos dengan Sora.

"...Orang yang tidak dapat menangkap bola akan dianggap kalah...Selama Izuna menggunakan kekuatan penuh...ia akan kalah."

Itu Benar, jika Izuna sebagai werebeast memukul bola yang telah menjadi berat karena air dengan kekuatan penuhnya, bola akan meledak karna tidak dapat menahan dampaknya, sehingga tidak dapat di teruskan ke orang lain—

Meskipun suadah tau kalau ini adalah apa yang Sora dan Shiro rencanakan sejak awal, izuna terus memprotes.

—jika bola tidak meledak saat itu, apa yang akan terjadi?

Di bawah suara gelombang dan riak yang Izuna ciptakan dari langkah dan hentakan tangannya... Steph bertanya mengeluh.

"...Kalian... apa tidak pernah berpikir untuk bersenang-senang secara normal?"

"Eh? jika itu Game, tentu saja tidak."

"...Tidak...sama sekali..."

"Karena itu game, bukankah normal berjuang demi satu angka, des?"

Mendengar balasan yang agak kekanak-kanakan dari mereka bertiga, Steph hanya bisa membiarkan dirinya hanyut bersama gelombang...

Miko yang sedang menonton mereka dari kejauhan berbicara.

"Oh... Mereka berhasil mengalahkan Izuna di olahraga, itu benar-benar sesuatu... Meskipun mereka tidak berencana menggunakan cara yang adil, tapi itu benar-benar luar-!?"

—kalimatnya terputus.

Merasa ada kehadiran di belakangnya, Miko segera menggeser tangannya ke payudaranya!

Tapi bahkan dengan reflek super dari werebeast, ia masih beberapa milidetik terlalu lambat.

Dengan baju renang yang tiba-tiba dilucuti, ia hampir tidak bisa melindungi payudaranya, namun Miko berhasil melihat 「Pelakunya」.

"—Apa artinya ini? Kau Kutu kecil?"

Jibril yang menghadapi tatapan kemarahannya malah berpura-pura tidak tahu.

Ia sedang bermain-main dengan baju renang yang ia lucuti dari Miko.

"Menurut literatur Master,「menampakkan payudara seseorang」di tempat seperti ini adalah takdir ☆"

"Oh~ Benarkah... Lalu kau juga harus mengalami takdir yang sama kan?"

Miko menutupi dadanya, tapi—dia sedikit menurunkan pusat keseimbangannya.

Miko bersiap mengambil 「Sikap bertarung」, sementara Jibril tertawa kecil merespon.

"Okey, tidak masalah, tapi jika kau pikir seekor anjing yang hanya bisa merangkak di lantai dapat mengambil sesuatu dariku—maka ku sarankan segeralah ubah akal mu?"

"Hah? Tampaknya kau salah paham, aku jelas tidak merangkak ditanah kau tahu?"

Ia memiliki senyum di wajahnya.

Sementara niat membunuh mereka mustahil di ketahui dengan mata telanjang—

—....

"Ah, Shiro kau tidak bisa berenang?"

"...Eh? Steph...Kau bisa berenang?"

Ia awalnya berpikir bahwa Shiro itu mahabisa, tapi ia terkejut karena kebenaran seperti itu ada, menyebabkan Steph bertanya padanya.

Tapi Shiro juga terkejut karna fakta kalau Steph bisa berenang—

"...Menakjubkan, des."

"Stephanie-san, sesuai dengan namanya, tidak hanya mampu dalam politik, memasak, menjahit... Tapi bahkan mahir berenang, namun aku punya pertanyaan sederhana—bagi hewan darat, untuk apa berenang di air!?"

"Orang tua, kau telah mengatakan kalimat terbaik abad ini! Hewan darat harus tetap di darat!!"

—Grup yang tidak bisa berenang menjawab serentak.

Steph tersenyum pahit dan meraih tangan Shiro.

"Aku tidak tahu bagaimana berurusan dengan mu, lebih menyenangkan bila tau cara berenang, sini, aku akan mengajari mu."

"...Oh..."

"Begini, aku akan memegangi tanganmu, lalu mulailah menendang air dengan kakimu."

Steph membantu ketidaktertarikan Shiro dan mulai mengajari dasar-dasarnya.

Steph memegang tangan Shiro. Tapi—

“Uwaaaahhhh!”

“Aaaaahhhhh!”

Sebuah gelombang besar tiba-tiba muncul, dan menyapu semua orang di pantai dalam sekejap.

"..fuuu...Aahhh...Nii..."
“WaaaaaSHIROaaaaaa!”

Melihat Shiro yang hampir tersapu oleh gelombang, Sora berlari meraihnya.

Shiro terengah-engah sejenak ketika memegang kakaknya, dan bergumam.

"...Nii...Shiro ingin belajar...berenang!"

Mungkin karena air laut masuk kematanya, Shiro bertekad dengan air mata turun di pipinya.

Tapi Sora berteriak ke arah 「orang-orang yang menciptakan gelombang」.

"Kalian disana! Bisakah kalian menghormati—atau setidaknya patuhi hukum fisika... Bisa kan?"

Suara emosionalnya bertahap melemah setelah melihat dihadapannya.

Apa yang ada di hadapannya adalah—

Di kejauhan laut ada dua petarung—dua monster.

"Hah, meskipun begitu sombong, kau hanya bisa sampai sini, yah?"
Jibril mengejek sambil terbang di permukaan air.

Tepat dibawahnya, Miko yang melompat keluar dari bawah air yang permukaannya menjadi merah, segera mengulurkan tangan untuk meraihnya.

—Miko bahkan menggunakan 「Blood Devastation」, tapi Jibril berhasil menghindarinya beberapa milimeter.

Tapi Miko langsung—berlari di permukaan air—sambil melindungi payudaranya dengan kedua tangan.

Pakaian Miko yang dikenakan pada baju renang, dan bahkan Hanten telah direnggut. Jadi ia tanpa ragu mengeluarkan aura pembunuh, mengejar Jibril untuk mendapatkan baju renangnya kembali.

“Heheh ☆ katakan doa mu, aku membiarkan mu hidup ☆”

Jadi ini adalah Miko, perwakilan penuh werebeast— 「Werebeast paling kuat」?

Ia berlari diatas permukaan air—dan kadang-kadang melompat ke udara.

Setiap kali ia terjun ke laut, Miko yang terendam dalam air dan angin, telah merubah tubuhnya dari merah ke emas—

"...Miko-sama berjuang demi harga dirinya...Mengagumkan, des."

—Saat melihat peristiwa yang berlangsung di hadapannya, bahkan Izuna meragukan dirinya, itu adalah situasi yang siapapun tidak bisa mencampurinya.

Sora memutuskan untuk menyerah, dan berbalik, mengabaikan mereka.

"Mm... Pemandangan yang indah."
Sora melihat Ino saat dia berbalik, mengikuti garis pandangannya.

Apa yang dia lihat adalah sekelompok orang yang tersapu ke pantai—tidak hanya Steph dan Izuna.

Gelombang yang menyapu pantai juga menyeret pengikut Miko, semua dari mereka menjadi basah kuyup—

Baju renang transparan mereka, menciptakan sebuah adegan yang tak terlukiskan.

"Oh... Aku lihat, memang tidak bisa dimaafkan di bagian mereka membiarkan Shiro tenggelam, tapi ini cukup menakjubkan."

Sora membawa Shiro menuju tepi pantai.

"Ah, ini benar-benar menyehatkan mata kita, Sora-san."

"Ya, itu akan menjadi sempurna tanpa mu."

Berusaha agar tidak masuk dalam pandangannya, Sora mengeluh pada orang tua berotot yang hanya mengenakan cawat.

Melihat sekumpulan orang-orang ribut karena tersapu gelombang, Steph tersenyum riang.

"Hah... Padahal aku sangat sibuk sebelumnya..."

Sinar matahari yang menyilaukan dan pantai putih.

Steph kembali ke tepi laut, dan dengabn ringan menendang permukaan air.

Gelombang yang di buat oleh kakinya serta tiupan angin laut, mengusir kelelahan rutinitas sehari-harinya —

"...aku kira aku butuh istirahat sesekali." Kata Steph penuh semangat.

Mencium garam air laut, Steph berpikir kapan terakhir kalinya ia bisa mendapat kesempatan bersantai seperti ini?

Sejak Sora datang—tidak, sejak kakeknya meninggal.

Ia merasa seperti ia tidak pernah bersantai dalam beberapa tahun—Steph menghembuskan nafas panjang.

"Bukankah bagus datang kesini..?"

Steph berbicara, tampak mencari persetujuan dari orang-orang.

—Beepbeepbeep.

"Ok~! Cut~~ berkemas! Terimakasih atas kerja kerasnya!!"

Sora berteriak dengan kedua matanya setengah terbuka.

...Satu demi satu... Semua orang menyeret diri dari laut kembali ke tepi pantai dengan jiwa dan energi tubuh setengah mati.

"...Ugh...Rambut ku...Pasir dimana mana."

"Fiuh... Aku minta maaf, Master, aku benar-benar tidak bisa menikmati laut... Ketika angin laut masuk kedalam sayapku itu membuat ku merasa tidak nyaman."

"Ekorku begitu berat setelah menyerap air, des ... Merepotkan, des."

"Fiuh~ ini terasa mengerikan, siapa yang memikirkan thalassotherapy, itu rencana konyol."
(TL: andelin mbah gogel, des.)
"Mohon maafkan aku, Miko-sama, karna telah merepotkan dirimu demi rencana Sora-san."

Suasana hati semua orang telah jadi buruk, sama seperti para aktor yang baru berakting—

“…Eh? Eh?”

Steph yang tidak mengerti situasi, dan masih di laut sendirian, melihat semua orang kembali ke pantai.

"Hmm? Apa yang kau lakukan? Steph, pembuatan film selesai, kau dapat kembali ke pantai sekarang."

Sora berbicara sambil menutup aplikasi perekam smartphone dan tablet yang didirikan di sepanjang pepohonan pantai.

"...Eh? Hah? Apa yang terjadi?"

"—Hmm? Ugh, Steph jangan bilang kau benar-benar bersenang-senang tadi?"

Setelah pindah ke tempat teduh, semua orang punya ekspresi tegang di wajah mereka sambil memijati tubuh mereka.

"...Ah, maaf, tentang itu, Steph... Sebenarnya."

Mungkin karena dia tidak berpikir bahwa ia tidak akan menyadarinya sama sekali, Sora berbicara agak canggung.

"...Di antara semua orang di sini...Tidak satupun dari kita menyukai laut..."

—「…Mm…」

Semua orang setuju sambil mengangguk berlebihan.

Di antara mereka Mikolah yang tampak sangat kerepotan.

Dia berbicara sambil membersihkan bulu emasnya.

"Meskipun aku mencoba bermain 「Bersama」 seperti yang Sora katakan... Aku masih tidak mengerti... Ada ber-ton ton pasir di ekor ku... Bagaimana aku menghilangkan ini?"

"Shiro-san—sekarang!"

Mata Jibril tiba-tiba menyala-nyala, dan ia mendekati Shiro karna sesuatu.

—Pada saat yang sama, mata Shiro juga berbinar, ia memberi acungan jempol pada Jibril, mengatakan "Good job."

"...Miko-san...Aku sarankan kau menggunakan...Sikat dan...Kondisioner rambut ini."

"B, benarkah? Terima kasih."

"...Mencium...Fiuh..."

Dengan cerdik menemukan alasan mencapai tujuannya, Shiro tertawa kecil dan membenamkan kepalanya kedalam ekor emas Miko.

Sora memegang hal yang sama misteriusnya di tangannya.

“Ya~hoo~! Kalau begitu aku menolong Izuna –“

"Aku akan membantu izuna merawat bulunya, sini, Izuna kesini."

Ino menghalangi jalan.

Mata mereka bertemu—dan keduanya saling melotot.

"...Orang tua, kau harus membersihkan ekormu sendiri kan?"

"Jika Sora-san yang merawatnya, bulu Izuna akan terkontaminasi oleh udara berbahaya mu, bagaimana jika Sora-san merawat tubuh lemahnya sendiri?"

Izuna mengabaikan pertengkaran mereka, dan tanpa ragu melangkah maju—dan duduk di depan Ino.

"Cepatlah, des."

"..."

"...Orang tua, mengeluarkan niat membunuh tanpa bicara, apakah itu semacam kemampuan khusus werebeast juga?"

Melihat ekspresi Ino yang begitu cerah sampai hampir mendengar pekikan kesenangan darinya, pembuluh darah Sora berdenyut keras di dahinya.

...Dengan suara bising, ombak menyapu kaki Steph.

—Tampaknya semua orang telah melupakan keberadaan Steph...

List -
Read More

No Game No Life Vol.4 - Bab 2 - Strategist/The Sun - Part 1


Bab 2 - Strategist/The Sun

Part 1

—Lautan

Ketika kau mau pergi ke tempat liburan, itu mungkin bisa di bagi menjadi dua kategori utama, daerah pegunungan atau daerah dekat laut.

Selama musim panas, banyak orang secara naluriah akan berduyun-duyun ke tempat-tempat ini, seperti ngengat yang berkumpul di sekitar lampu.

—Sejujurnanya, butiran-butiran pasir akan susah hilang dari tubuh kita, kulit seseorang yang terkena sinar matahari untuk waktu yang lama juga akan terasa sakit dan tidak nyaman pada tubuh, sedangkan angin laut yang kencang bisa membuat rambut mu rusak setiap saat. Memikirkan itu, sulit dimengerti kenapa orang-orang datang ke tempat seperti ini.

Tapi—sebuah tempat penuh kebencian ini, pada kondisi tertentu akan berubah, dan itu sudah berbeda persoalan lagi.

 “—Fiuh… Menyenangkan sekali.”

Di bawah payung yang meyerupai payung kertas ala jepang, Sora berbaring di tempat tidur yang terbuat dari anyaman-rumput dengan gelas di tangannya.

Di kedua sisi Sora, beberapa werebeast Pengikut Miko tampak sedang mengipasinya dengan daun raksasa.

Hanten mereka yang menyebar terbuka di daerah dada—yang sepertinya merupakan baju renang khas Serikat Timur—menampakan payudara dan kulit di balik pakaian yang hanya menutupi setengah tubuh mereka. Dibanding dengan telinga dan ekor mereka yang tertutupi bulu, itu lebih mencolok dan menarik dari pada matahari yang bersinar.
(TL: 'hanten' cari di wiki cuk.)
Sora mengguncang cangkir ditangannya, dan berpikir—ini adalah surga.

"...Sora-san, tak ku sangka kau bisa bertahan di terik panas matahari ini... Kau pasti sangat menikmatinya."

"So pasti! Bukankah ini semua karena sunblock khusus Jibril yang dibuat dari roh cahaya? Selain itu—"

Ino berbicara dengan tenang, sementara Sora menjawab dengan sedikit kecurigaan pada suaranya tanpa berbalik.

"Orang tua, aku sengaja tidak melihatmu, tapi kau tidak memakai cawet lagi, kan?"

"Sora-san, apa yang kau katakan itu cukup aneh... Selain cawat, apa yang dipilih laki-laki selain pakaian ini ketika beraktivitas di air?"

Seperti yang Sora prediksi—dia hanya mengenakan cawat—seorang pria berotot menjawab sambil memiringkan kepalanya.

Sora mengeluh frustasi, kemudian berbicara sambil menunjuk diri sendiri.

"Biarkan aku memberitahu mu sesuatu orang tua, liat aku, bagaimana menurutmu?"

"—Sora-san, apa kau punya fetish semacam itu?"

"Apa kau pikun!? Orang tua ~~!! Celana pendek dan kemeja! Ini juga standar pakaian renang!"

Sora berdiri dan mundur beberapa langkah, lalu berteriak setelah menjawab penuh jijik.

Ino menggelengkan kepalanya tak berdaya.

"Kau tidak ingin orang lain melihat tubuh lemah mu, tapi itu takmasalah, Sora-san, wajar saja untuk menutupi tempat memalukan diri sendiri."

"Aku hanya tidak ingin menjadi pria berotot seperti mu! Juga, jangan panggil aku lemah! Sejak pertandingan FPS melawan Izuna, aku menyadari stamina itu penting, aku mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi aku sudah berlatih!"

Sora berteriak, tersedak sedikit, lalu berbaring lagi.

—Dia cukup terkejut ketika tau kalau dia sendiri sanggup melakukan lima puluh kali push-up dan sit-up, tapi dia tidak perlu mengatakan itu.

"...Mari ganti topik, apa mereka belum selesai?"

"Gadis-gadis memerlukan waktu lama untuk berganti pakaian kau tahu, Sora-san—maafkan aku, apa kau dengar?"

"Emang sulit ngomong sama orang tua berotot, lu bisa gak ngerti keinginanku!? Bisa gak!?"

Sora berteriak dingin, kemudian melihat ke belakangnya.

"Hei, Shiro, kau belum selesai?"

"...Mm, aku butuh...lebih banyak waktu..."

Belakang Sora—jawaban Shiro melayang dari bayangan di balik rimbunan pohon.

Sesuatu yang terdengar seperti pakaian menggores bisa terdengar, tampaknya ia mengalami kesulitan mengenakan pakaiannya sendiri.

"Bukankah lebih baik jika ia berganti dengan gadis-gadis lain di ruang ganti?"

"Ya, itu yang ku sarankan, setelah itu aku dikejar oleh seseorang... Dan seseorang itu adalah kau."

Sora dan Shiro tidak terpisahkan, bahkan ketika berganti pakaian.

Itu adalah fakta yang tak terucapkan, sehingga Sora seperti biasa, secara alami, secara otomatis, mencoba memasuki ruang ganti gadis dengan Shiro—

Tapi kemudian dia diusir, yang mengakibatkan situasi saat ini.

"Mencoba mengintip Miko-sama telanjang, bahkan jika hal semacam itu diizinkan tuhan, aku tetap akan menolak!"

"Miko-san sudah mengatakan ia tidak keberatan-!"

Sora merasa menyesal mundur dari ruang ganti hanya karena ancaman orang tua bercawat itu.

—Sekarang ayo pikirkan cara untuk menipu Ino, dan menyelinap ke ruang ganti.

Baru saat Sora merancang rencana hebatnya—

"...Aku selesai, des."

"Oh...Izuna, kau terlihat manis entah apapun yang kau kenakan."

—Mendengar seorang gadis kecil, Ino tiba-tiba mengambil suara kakek penuh kasih dan berbalik.

Setelah melihat Izuna yang paling awal selesai, Ino menghela napas lega.

"Aku mendengar baju renangnya disarankan oleh Sora-san—awalnya aku pikir akan jadi pakaian tak bermoral."

"Kau terlalu dangkal orang tua, pertama! Wajar saja kalau anak kecil mengenakan 「Baju Renang Sekolah」!”

Izuna melambaikan ekornya sambil melangkah ringan di pantai.

Itu adalah Baju Renang yang berasal dari dunia Sora... Sebuah baju renang sekolah jaman dulu.

Tentu saja, itu adalah sesuatu yang tidak ada didunia ini.

Untuk menjelaskannya lebih lanjut, bahkan Serikat Timur tidak memiliki kain serat kimia seperti polyester.

Tapi—padanya kenyataannya Baju Renang Sekolah pun awalnya ditenun/dibuat dengan sutra sebelum masa perang dunia kedua.

Jadi ini adalah produk tenunan sempurna yang di buat oleh Steph, ia mengikuti petunjuk rinci yang tercantum pada tablet Sora.

Steph—kau benar-benar melampaui dirimu sendiri.

"...Tapi itu tidak terlalu banyak menampakan kulit."

"Biar kukatakan lagi, kau terlalu dangkal orang tua, tanpa bumbu budaya, bagaimana bisa itu dianggap romantis!?"

—Benar, diatas Baju Renang Izuna, ia juga punya lengan panjang kimono menyerupai Hanten yang berbeda dari apa yang werebeast kenakan.

Kemonomimi, gadis kecil, baju renang sekolah, belum lagi bumbu budaya Serikat Timur-!

—Ini adalah — —「Ide brilian Sora」…

Izuna berjalan di depan Sora, lalu seolah-olah ingin melihat bagian belakangnya, ia berputar-putar.

"Apakah ini bagus, des?"

"Itu sempurna... pada awalnya kau adalah si penjahat manis, namun sekarang kau bisa diklasifikasikan sebagai Harta Negara."

Melihat Sora tersenyum normal di wajahnya seraya memberi acungan jempol setuju, Ino—

"... Aku tidak terlalu mengerti tapi, aku memberi persetujuan khusus karena tidak membiarkan cucuku memakai pakaian tidak bermoral."  —Kata ino.

"U,um... Aku sudah selesai."

"Oh, Steph, kau telah melakukan pekerjaan yang sangat baik—"

Mendengar suara malu Steph, Sora berbalik untuk berterimakasih—tapi dia malah membeku sejenak.

Pipi Steph cerah merah, semerah warna baju yang biasa ia pakai. baju renang yang ia kenakan adalah model Two Piece yang di modifikasi dengan tambahan ruffles dan selendang yang terbuat dari bahan semi-transparan. Matanya terus melesat dari sisi ke sisi.

Dari apa yang Sora tahu, Elkia seharusnya tidak memiliki semacam 「Baju renang」.

Berbicara tentang baju renang, Elkia hanya punya—itu.

Seperti abad ke-17 Eropa timur, model baju renang yang menutupi seluruh tubuh dan tampak begitu kuno, itulah yang Ekia miliki.

Karena itu, Sora meminta pada Steph untuk membuat baju renang baru.



Dari ekspresinya, ia mungkin memilih baju renang yang ia sukai dari katalog Sora dan Shiro.

Tapi alasan Sora membeku di tempat itu bukanlah baju renang.

Alasan sebenarnya adalah karena dia melihat 「Itu」 yang cukup besar sampai ketikik hampir meledak dari baju renangnya—dan tanpa henti melintas di otaknya yang membuatnya membeku.

"—T, Tidak mungkin! Delapan-sembilan, lima-delapan, delapan-sembilan... Level powernya sampai di lima ratus ribu -!?"

"Kau—bagaimana kau tau—tidak! Apa yang kau bicarakan!!"

Scanner level power dalam kepala Sora yang menghitung Steph membuat bingung 「Alat Pengukur Dada」, membuat Sora gemetar tak karuan.

Hal seperti ini ada!

Apa aku melewatkannya karena uap padat sebelumnya!?

"...Ugh, ugh... Ternyata Steph punya standar tinggi seperti ini—!"

"Eh, ah! B, benarkah? Ini, ini bukan apa-apa..."

Steph berdiri gugup, agak bangga dengan dirinya sendiri.

Sora hendak mengatakan sesuatu yang lain kepadnya, tapi -

"Aku minta maaf, Master, karena ini membutuhkan waktu lama untuk 「menenunnya」 menurut referensi mu."

"Haha, itu tidak apa, membuat pria menunggu adalah kebiasaan wanita yang baik juga!"(Miko)

Mendengar kedua suara itu, semua orang berbalik—seketika itu, Pengukur Level Power Sora meledak dan terbang jauh.

Sora dan Ino tidak punya waktu berpikir, mereka langsung mengikuti naluri, keduanya berlutut dilantai, seolah-olah itu adalah kewajiban yang harus mereka lakukan.

Apa yang mereka liat ketika mereka berbalik itu adalah—Malaikat.

Sang Dua Malaikat—salah satu dari mereka adalah Jibril.

Rambutnya berubah warna tanpa henti mengikuti sinar matahari yang sedang melambai-lambai mengikuti angin laut, membuat dirinya semakin indah dan mempesona.

Struktur keindahannya hampir mencapai titik kesempurnaan yang akan membuat semua hati pematung mencair pada saat pandangan pertama.

Dan maha karya itu, mengenakan baju renang yang direkomendasikan Sora.

Jibril biasanya mengenakan pakaian yang sangat terbuka, jadi Sora memilih baju renang yang menyerupai model tertutup dengan area perut terbuat dari tenunan sutra.

Ia memakai selendang yang melilit pinggangnya, dan sayap cahayanya muncul dari situ.

Belum lagi Halo yang berputar dikepalanya, menambahkan aura suci padanya.

Keindahan tiadataranya itu tak diragukan lagi akan meyakinkan semua orang bahwa ia adalah Malaikat yang turun dari langit.

Sang Dua Malaikat—yang kedua adalah Miko

Bulu keemasan, telinga, ekor, dan kulit putih saljunya, terhiaskan cahaya terang matahari, membuat ia layaknya seperti—seorang Buddha.

Jika itu mengenai lekukan tubuh, Jibril dianggap sebagai keindahan yang luarbiasa—maka ia akan menjadi orang yang melampauinya.

Kulit halus yang biasa tersembunyi di bawah kimono sekarang dilapisi dengan baju renang yang menyerupai hanten.

Tapi baju renang itu menyebar seperti kupu-kupu di malam hari, menampakkan bahu merah muda nan lembut, membuat ia semakin luar biasa indah.

Rambut emas dan ekor kembarnya melambai-lambai saat ia melangkah di sepanjang pantai. Bersama dengan senyum genit di wajah yang akan meyakinkan siapapun kalau ia adalah jelmaan Dewa Iblis rubah—Sang Rubah yang menaklukan setiap makhluk hidup ternyata benar benar ada..

Kedua laki-laki itu masih berlutut bersama air mata mengalir di pipi mereka.

Mereka berdoa kepada tuhan diatas yang alasanya pun mereka tak ketahui.
(tl: bukan Tet)
"...Hatsuse Ino, akhirnya menyadari mengapa dia hidup di atas dunia ini—!"

"Oh, tuhan! Aku tidak tau dimana kau berada, atau siapa kau, tapi kau adalah tuhan yang mempunyai selera luar biasa untuk menciptakan Jibril dan Miko di bumi ini—ah, tolong angkat aku sebagai muridmu..."

—Beginilah peristiwa terciptanya sebuah agama baru.

Dan Steph serta Izuna menyaksikan momen berharga ini, namun—

"—Yah, pasti bakal jadi begini kalau mereka bersama... Tapi bukankah cara kami diperlakukan agak keterlaluan?"

"...? Apakah ada pasir di mata mereka, des?"

Melihat mereka berdua yang masih berlutut, Izuna memiringkan kepalanya bingung.

"Ah, Master, aku tidak pantas menerima pujian itu, tolong angkat badanmu!!"

"Yah, bangunlah, lebih baik kau mengangkat kepalamu, dan nikmati penampilanku dalam baju renang?"

Jibril segera berlutut dan mulai memohon ketika melihat tindakan Sora, sementara Miko tertawa lepas sebagai gantinya.

Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh kedua wanita itu, Sora dan Ino berdiri dengan gemetar.

Bersiap memaku kembali mata mereka ke dua sosok sakral itu, Sora dan Ino melihat ke langit.

"...Aku merasa seperti telah dilahirkan sekali lagi."

"...Ya, aku merasakannya juga."

"...Ayo kembali."

"...Sangat jarang kita sehati, Sora-san."

—Keduanya menjadi begitu Filosofis

Mereka yang biasanya seperti api dan air, pada saat itu, tidak punya penghalang apapun di antara mereka, dan perbedaan antar Ras telah terjembatani.

Kedua laki-laki itu menatap langit yang sama, membawa pikiran yang sama dalam diri mereka, dan saling kasih terhadap satu sama lain.

—Mengapa semua orang harus bertarung satu sama lain? Padahal Dunia adalah tempat yang sangat indah —

"Tidak, tunggu! Mengapa kita datang kesini?"

Steph berteriak pada dua orang yang baru saja mendapat pencerahan ketika melihat cakrawala.

—Eh?

"...Mengapa yah?."

"Perkenankan aku untuk menjawab, Master, aku percaya kita kesini untuk mengunjungi Ibukota Seiren."

...Ah, benar, Sora akhirnya ingat.

—Ya, persis yang dikatakan Jibril, mereka tidak datang kesini untuk bermain di laut.

Karena ibukota Seiren— 「Oceando」 , berada di bawah laut.

Jibril belum pernah kesana dan ia tidak bisa melihatnya, jadi ia tidak bisa men-teleportasi mereka kesana.

Jadi, menurut rencana mereka, Plum akan membimbing mereka dari sini, tapi—

"Hmm? Apa yang terjadi pada Plum, katanya ia akan membimbing kita?"

"A, aku di sini..."

"Whoa!?"

Sebuah suara lemah melayang dari dekat kakinya, membuat Sora melompat kaget.

Dia tidak tahu kapan itu disana, tapi sepasang mata menatapnya dari peti kayu yang kehadirannya tidak bisa dideteksi sampai saat tersebut.

"...Eh, kau Plum? Apa yang kau lakukan, ini laut, ini laut kau tahu."

"J, jangan asal ngomong... I, ini sudah batasku!" Jawab Plum. Pola-pola cahaya mulai muncul disekelilingnya yang tidak berbeda ketika ia menggunakan Sihir—dan air mata muncul di matanya.

"Master, sinar matahari fatal bagi Dhampir, bahkan ketika ia bersembunyi dalam peti, ia masih perlu menghindari sinar matahari—“

Mendengar kata-kata Jibril, Sora teringat 「Penyakit」 mereka.

Karena itu ditularkan melalui menghisap darah, itu berarti Dhampir sendiri tidak akan bisa melihat matahari.

"...Oceando hanya akan mengirimkan 「Perahu penerima」 mereka di malam hari! Mengapa kita harus datang di siang hari..."

—Betul.

Ia sudah mengatakan itu sebelumnya, perahu hanya akan datang setelah matahari terbenam.

Plum mengeluh frustasi, mengapa mereka datang di siang hari yang mana seperti wajan neraka baginya.

"Tidak, tapi ini adalah laut, apa kau ingin aku melewatkan baju renang dalam situasi seperti ini, apa kau serius?"

—Kalau bukan karena 「Sunblock」 khusus Jibril, Sora tidak akan datang pada hari baik ini.

"Oh yah, Jibril, apakah Sunblock takberguna pada Plum?"

"Sayangnya, Master, untuk Dhampir, 「Terkena sinar matahari」 adalah penyebab kematian mereka."

Jibril menegaskan kalau tidak ada solusi yang mungkin, tapi Plum menyanggah.

"Ah, tidak... Itu akan baik-baik saja jika mantra yang kuat di rapalkan... Tapi itu akan menggunakan terlalu banyak energi."

Mereka ingat betapa lesunya ia ketika pertama kali datang ke kediaman Sora dan lainnya.

Yang berarti, baginya untuk berjalan di bawah terik matahari seperti ini, ia mungkin akan berakhir dalam keadaan itu lagi.

"Um, kalau itu... Karena kualitas darah Seiren, aku tidak dapat menggunakan terlalu banyak kekuatan... Jadi..."

Tiba tiba, senyum manis muncul di wajah Plum.

"Jadi! Selama kau membiarkan aku menjilat kaki Shiro-sama, aku pasti dapat menggunakan sihir~ ehehe ~ ☆"

"Ndasmu, akan lebih baik kalau kau tetap tenang di dalam Peti itu itu."

Dengan saran yang langsung di tolak, Plum hanya bisa menutup lagi peti itu sambil merengek.

"...Hey, mengingat mereka peringkat 12, tidakkah Dhampir terlalu lemah?"

Bahkan jika dibandingkan dengan kemampuan Vampir di duniaku, Sora masih berharap mereka memiliki kesamaan.

"Kemampuan Dhampir sesuai dengan darah yang mereka konsumsi—semakin kental esensi jiwa, semakin kuat kekuatan mereka." Jawab Jibril.

"Mereka ahli dalam sihir menyamar. Jika di kombinasikan dengan sesuatu yang memiliki afinitas sihir yang tinggi—seperti… darah Elf, itu akan melahirkan 「Asasin」 yang akan sangat sulit dihadapi, dan jelas mereka akan jadi ancaman besar dalam perang.”

...Jadi begitu, Sora teringat malam pertama kali bertemu.

Itu adalah saat kecerobahan, dan bahkan Jibril ditipu olehnya, dan sekarang—

"—Sekarang mereka selemah ini..."

Melihat ke bawah peti di kakinya, Sora berbicara dengan mata setengah terbuka.

Jelas sekali kalau ia masih gemetar di dalam peti, dengan air di matanya.

"—Aku sudah memikirkan ini sejak awal, Elf dan Flugel, Mereka hanya berbeda satu peringkat, bukankah kekuatan mereka hampir sama? ia bisa meminum darah Elf, tapi ia akan menguap setelah meminum darah Jibril. kan?"

"Ya, karena pada peringkat ada 「Segmentasi」.”

"Segmentasi?"

"Pada dasarnya, mereka yang di bawah peringkat 7 adalah「Makhluk hidup」, sedangkan yang diatasnya diklasifikasikan sebagai 「Hidup」."

"...Yang berarti?"

"Mereka yang memiliki tubuh fisik daging, dan menggunakan metode reproduksi, umumnya diklasifikasikan sebagai 「Makhluk hidup」, yang berakhir pada Elf peringkat 7, sementara mereka yang diatasnya memiliki kekuatan kehendak atau konsep, yang kau bisa sebut sebagai 「Hidup」."

—Mm, jadi pada dasarnya—

Itu tak mungkin dipahami akal sehat, begitulah Sora memahaminya.

"Oh, peringkat diatas Jibril—adalah Gigant, benar? Apa perbedaan antara kau dan ras itu?"

"...biar ku pikirkan, untuk Gigant normal, tidak akan cukup membunuhnya dengan satu kekuatan, secara realistid, aku pikir aku akan membutuhkan lima teman lainnya—eh? Apakah kau berencara memburu satu?"

"Tidak, aku tidak ingin, jadi berhentilah terlihat bergairah!"

Orang dengan ekspresi kecewa di wajahnya ini—bisa seorang diri menjatuhkan Elf yang dipuncak klasifikasi Makhluk hidup.

Tapi ia membutuhkan enam kekuatan untuk menjatuhkan Gigant yang di peringkat 5.

Merupakan suatu keajaiban bagi mereka yang dibawah peringkat tujuh selamat dari Perang Besar.

Terutama Imanity, atau harus kukatakan, kita—ah, benar.

"Ngomong ngomong... Hey~! Shiro, kau masih belum selesai?"

Tiba-tiba, Sora menyadari jangka waktu panjang yang telah berlalu, sehingga ia mengarahkan pertanyaannya pada semak-semak dibelakangnya.

"... Mm."

Bereaksi terhadap suara Sora, Shiro menjulurkan kepalanya dari balik pohon.

Ia tampak ragu seolah-olah ia tidak berani keluar.

"Apa? Shiro, apakah kau masih membenci sinar matahari? Jika kau merasa tidak nyaman kau tidak perlu memaksakan diri!"

Meskipun ia memakai sunblok khusus Jibril, Shiro masih membenci sinar matahari.

Belum lagi kebencian Shiro itu lebih besar dari Sora, yang tentu Sora tahu.

—Untuk membalas Sora yang mempedulikannya, Shiro—Menggelengkan kepalanya, meskipun masih ragu-ragu, ia perlahan keluar dari balik pepohonan.

"...Oh~ betapa indahnya."

"Ah, bukankah itu imut?"

"... Shiro, kau benar benar cantik, Des."

Ino, Miko, dan Izuna telah menyatakan pendapat mereka—tapi Sora membeku di tempat.

Yang berdiri disana tidak di ragukan lagi adalah adiknya tercinta.

—Begitulah harusnya, tapi—

"-...Eh?"

Orang itu berjalan keluar dengan gugup— 「si Gadis kecil bagai permata」.

Rambut panjang seputih salju, terikat ke belakang kepala sehabis penuh hati hati melerainya.

Dengan sinar matahari menyorot, rambutnya tak lagi seperti salju—tapi lebih seperti Kristal atau Berlian.

Kulit yang nampak diantara bikini putih dan topi Merahnya, semakin memperindah kecantikan  rambut maupun mata rubynya itu.

“…Nii…?”

Sama seperti pipinya, merah merona yang sama persis.

"-Eh? Aneh? Eh?"

Rasa bersalah terbayang ketika melihat  「Adik」nya, membuat Sora bergumam secara tidak sadar.

Sementara gumaman itu tampak membuat Shiro agak gelisah,

"...Jadi sungguh...Tidak terlihat bagus...?"

Setelah melihat Shiro mengatakan itu sambil menatap kebawah dan bersiap-siap mundur kedalam pepohonan, Sora kembali normal lagi.

Tiba-tiba—dia mempertanyakan dirnya sendiri mengapa dia begitu panik—dia menggelengkan kepalanya tegas.

"T, Tidak! Tidak!! Aku hanya terkejut karena Shiro begitu indah—tidak, tunggu, Shiro adalah kecantikan yang sempurna, kakakmu ini tahu sejak lama! Kau tau itu... Kan? Eh?"

Sora memiringkan kepalanya, ingin tahu mengapa dia begitu terkejut sebelumnya.

Jibril dan Steph di sampingnya tampak hanyut karna kecantikannya.

—Shiro menunduk malu.

Saat detak jantung Shiro meningkat, ekspresinya mengisyaratkan sesuatu yang lain—kecil, senyum puas.

"...Benarkah? Itu...bagus..."

...

"Master benar-benar pantas dipuji... Tidakkah sepasang mata itu benar-benar indah?"

"Tidak, itu bukan bagaimana itu, normal saja bereaksi seperti itu terhadap hal hal imut ahhhh."

Jibril kembali bersemangat, dengan kulit putih halusnya… ia menghela nafas.

Steph menekan kepalanya dengan tangan, tampak sedang mengalami semacam konflik internal.

“…Nii…?”

"Oh, hmm? Mm, ya, kau tampak hebat! Kau, adikku, kau adalah kebanggaan terbesarku!"

Shiro berjalan mendekati Sora saat dia kembali menjadi Normal

Dielus kepalanya oleh Sora, Shiro mengangguk seakan sudah tenang.

"—Uh, benar, Plum, bisakah kau memberikan kami perkiraan kapan 「Perahu Penerima」 akan tiba?"

Sora merasa sedikit canggung, dan mengingat tujuan aslinya, bertanya pada Plum.

Mendengar kata-kata Sora, semua orang—menatap Plum.

Plum menampakan wajahnya sedikit dari dalam kotak, dan menjawab.

"Um, sekitar tengah malam atau lebih—"

"Oh! Kita punya banyak waktu."

Plum menjawab dengan suara mengalah,

"Itu sebabnya kita tak perlu datang terlalu awal... Waaaahhhh."

Setelah menyelesaikan kalimatnya—mungkin karena sinar matahari sangat tidak nyaman—Plum menutup peti lagi.

"Tak apa. memang apa bedanya?"

Miko berbicara dengan santai, dan tanpa disadari siapapun, ia sudah berbaring di atas tempat tidur rumput yang digunakan Sora sebelumnya, membiarkan pengikutnya mengipasi dirinya dengan daun raksasa dan memberi balasan elegan.

"Anggap saja ini sebagai liburan, bersantai dan menunggu perahu, semua orang membutuhkan istirahat dalam hidup, kan?"

Sora dan Shiro menggaruk kepala mereka sambil tersenyum pahit, dan bertukar pandang.

Shiro mengangguk.

"Yah, ini pertama kalinya Shiro dan aku pergi ke pantai."

Mata Sora memandang Steph, Jibril, Izuna, dan Ino sebentar, lalu berbicara sambil tertawa.

"Mau coba hal menyenangkan di pantai?"

List -
Read More

No Game No Life Vol.4 - Bab 1 - Encounter/ The Devil - Part 6


Bab 1 - Encounter/ The Devil

Part 6

Kerajaan Elkia, kamar tidur Raja.

Steph dengan khusuk menikmati tidur yang sudah lama ia tidak rasakan. ia mengembara di dalam mimpinya...

"Kakek~~ dengarkan aku! aku harap kau masuk neraka!!"

Tiba tiba, suara ledakan mengejutkan seisi kota, dan menggema kesekitar. Stephpun berguling dari tempat tidur.

"A-Apa yang terjadi!?"

Steph berteriak kesakitan setelah kepalanya terbentur, tapi setelah menyadari apa yang ia baru dengar... suara ledakan yang melebihi teriakannya Steph bahkan lupa ia masih menggunakan piama. ia bangun dari tidurnya, dan segera berlari menuju sumber suara---arah yang sama menuju ke ruang konferensi utama.

sesampainya didepan ruangan tsb.

seketika itu, seolah-olah pintu ruang konferensi utama telah ditendang. Steph, yang panik bergegas mendekati, ia melihat...

Penyebab ledakan sebelumnya --- yang seharusnya......... Tidak, itu pasti --- tak lain adalah Jibril.

Mungkin karena suara ledakan...

"B-Bagaimana kengerian ini terjadi........"

Hatsuse ino, yang menggantikan Steph dalam permainan, serta lawan gamenya---

Yang mana salah satu dari tuan penguasa--- berada di sana. Kartu mereka berterbangan di udara dengan sejumlah besar dokumen berserakan. Asap mengisi ruang rapat utama, dan salah satu sisi dinding hancur berantakan.

Sumber yang menyebabkan tanah berguncang hebat pun menoleh kearah Steph.

"Hi, Dora-chan. Master memerintahkanku mentransfernya menuju ruangan di Elkia, tapi karena ada terlalu banyak orang, aku harus membuka lubangnya sedikit lebih besar disini...Apakah kau baik-baik saja?"

---Aku tidak mungkin baik-baik saja kau tau?

Tapi di bandingkan dengan itu... Steph mulai menangis saat ia melihat kearah...

Asap yang memudar. Dengan momentum besar, Sora mendekati Ino dengan langkah melayang, dan mulai berteriak padanya.

"Terdakwa Hatsuse Ino! Tidak hanya seorang Riajuu, kau bahkan memaksa beberapa gadis menjad istri mu! Aku mencoba memproses dosa besar ini di otakku, dan berdasarkan keputusan egois ku sendiri, vonis mu sepenuhnya sangat bersalah, dan selanjutnya kau akan dihukum mati! Dengan hukum galaksi, sekarang aku akan melenyapkanmu menjadi debu alam semesta, gaaaahhhh !!!"

".......Ah... Sora-dono, kata-kata yang akan kusampaikan padamu sekarang telah terbang entah kemana."

Ketika di hadapkan dengan raja yang baru saja kembali setelah berkeliaran untuk setengah bulan... Dan pulang menjadi seorang Raja gila...

Ino tampak seperti sedang menekan api murka-nya, tapi...

Izuna tiba-tiba muncul dari belakang Sora. Kata-Katanya membuat ino membeku ditempat.

"...Kakek... Apakah kau [Monster-penyuka-seks], des?"

"EH!? Izuna, dimana kau belajar kata-kata itu......!"

Sebaliknya, karena ia mungkin tidak mengerti kata-kata itu, Izuna memiringkan kepalanya ke samping dan melebarkan matanya.

".......Begitulah Sora memanggil Kakek, des."

"Oi! Kau monyet sialan!! Kau tidak hanya melemparkan gunungan pekerjaan ke orang lain, kau bahkan menanamkan kosakata aneh pada cucuku!?"

Ino memperlihatkan sifat sejatinya, dan memecahkan meja dengan raungan marah.

Tapi Sora melihat ke arah langit, dan melambaikan tangannya kemudian menunjuk ke wajah Ino.

"Ah! Lihatlah, Izuna! Ini adalah wajah dari pendosa besar yang tidak bermoral. Jelek, bukan?"

Izuna memasang wajah muram.

".......Kakek berhenti membuat gaduh, des."

"Wha ------- tidak, tidak, tidak seperti itu, Izuna! Kakek jujur mencintai gadis-gadis itu......"

"Ah~Ahh~ Diam, Diam, kau lebih rendah dari budak! Jangan buat alasan, dan bersiaplah untuk mati --- aarrgh!!"

".......Nii.....Berisik......" kata Shiro yang sedang digendong Sora.

Memegang lehernya dengan tangan, kemudian berbisik halus kepada Sora, memaksanya untuk menutup mulut.

---Dan, ketika asap mulai memudar....... "Hahaha, pasti selalu terjadi keributan....."

Bersamaan bunyi lonceng, langkah kakinya terdengar seperti berjalan di lantai...Sang Rubah Emas muncul.

"Wha--- Mi-Miko-sama!?" Melihat sosoknya, Ino langsung membungkuk untuk menyambutnya.

Miko berkata, "Hatsuse Ino...Kita sekarang [ak bersama sama] menuju Oceando."

Dengan suara nyaring dan menyenangkan, ia melanjutkan.

"Sebelum kesana, tolong luangkan waktumu untuk memamerkan sifat romantismu. Aku rasa tidak ada masalah, kan?"

"Mi-Miko-sama......Bahkan Miko-sama menatapku seperti itu..."

Mengabaikan Ino yang hendak membasahi tanah dengan air matanya, Miko memilih untuk menurunkan suaranya dan mengulangi dirinya...

"...Tidak masalah?"

...Pertanyaan seperti itu.

...Ino mengangkat kepalanya untuk mengamati sekeliling. Meskipun dia tidak mengerti sepenuhnya... Dia hanya memberi jawaban..

".......Sesuai kehendak anda, serahkan itu padaku."

"---......"

Steph tidak bisa mengerti dengan apa yang terjadi, ia polos berdiri berdiri didepan pintu.

"Hei, Steph, kau terlihat cukup baik. Kita belum melihat satu sama lain dalam dua minggu, yah?"

---Nada Sora santai saat berbicara, mungkin karena dia akhirnya melihatnya di sana.

Melihat wajahnya... Emosi tak terhitung dalam dada bergejolak takterkendali.

Kemarahan, kekesalan, tanggung jawab yang mereka lempar, berpuluh puluh pertanyaan...

Tapi dibandingkan semua hal itu, melihat wajah Sora setelah sekian lama... Penglihatannya mulai kabur.

Ada begitu banyak kata yang telah ia siapkan ketika akan bertemu Sora. namun, kesemua itu terbang sampai ke langit yang paling tinggi.

Steph menutup kedua mata erat erat, dan sengaja tidak menghapuskan air mata yang muncul di matanya.

Ia tidak memikirkan perasaan apa yang didalam air mata yang tak terbendung itu, Steph hanya membiarkan emosinya keluar sementara Miko berbicara...

"Oh, kebijakan Elkia telah diterapkan dalam keadaan seperti ini, ah... Apakah itu karna arahan Hatsuse Ino?"(Miko)

"Itu Steph. ia menyerahi Ino pekerjaan pembatasan dan rekomendasi."(Sora)

“……Eh?”(Miko)

----Terdiam.

Mendengar Miko dan Sora bertentangan, Steph membuat suara saat ia jatuh kedalam pandangan kosong.

Steph membelalak terkejut mendengar jawaban tak terduga Sora. Miko, sebaliknya, ia tersenyum, seketika tahu apa yang sedang terjadi.

"--- jadi begitu. Setelah kau mengumumkan bahwa federasi akan dibangun, kedua [Penguasa] dengan santai tinggal di Serikat Timur, dan menyebabkan situasi seperti ini......... Kau memang pria licik yah."

Miko menyatakan ini dengan berani, tetapi Sora pun sama-sama tersenyum saat menjawabnya.

"Masalah profesional harus ditangani oleh para profesional... Politik adalah sesuatu yang Steph dapat tangani dengan mudah."

".....Ditambah fakta kalau [Kalian berdua tidak ada] saja sudah melebihi sebuah pukulan."

"Ya, karena kami khawatir kalau negara-negara lain mungkin akan mengambil kesempatan untuk ikut campur urusan kita."

--- Ino dan Steph seketika membeku ketika mendengar pernyataan itu.

Namun, Shiro melanjutkan berbicara sambil membaca beberapa dokumen.

"......[Ketika Nii dan Shiro tidak ada] .....Tidak peduli bagaimana kau memikirkannya.......[Itu adalah jebakan] ......"

Lalu...Ia terus berbicara.

".......Hanya idiot......yang akan langsung melompat ke dalam perangkap."

"Kerumunan idiot itu melawanmu dengan game yang biasa kau mainkan dengan Shiro dan aku... Tapi Steph terus belajar dari kekalahannya, sehingga mereka tidak punya kesempatan 10.000 banding 1 untuk mengalahkannya. Itu sebabnya kami merasa nyaman ketika memfokuskan upaya kami pada Serikat Timur♪”

Steph dan Ino kehilangan kata katanya. Mereka berdiri tertegun, tidak dapat berkata apapun.

Tapi ekspresi Sora berubah semakin serius dari sebelumnya.

"Tapi, bukankah itu terlalu banyak, Steph? Mengapa kau menerima semua tantangan tersebut?"

--- Mendengar kata kata itu membuat Steph membeku seketika.

Eh....... Jika itu benar... Lalu kenapa aku menerima semua tantangan itu?

Game apa itu dan pilihan apakah kau menerimanya semua diputuskan oleh pihak yang ditantang.

Mengapa aku memaksakan diri untuk jadi sesibuk itu...

Mata Steph terbuka lebar saat ia mempertanyakan dirinya sendiri, tapi Sora melanjutkan dengan kalimat berikutnya.......

"Steph... Meskipun aku sangat mengandalkanmu, kau tidak perlu memaksakan diri terlalu keras, dan juga... Bagaimana aku mengatakannya yah."

Sora menggaruk kepalanya dan sedikit malu ketika dia berbicara.

"Terima kasih."

--- sesuatu yang ingin ia dengar.

Ia telah bekerja mati matian untuk negaranya demi mendengar kata kata itu.

Ketika pikirannya mulai memahami makna dibalik air mata yang jatuh, badannya mulai memanas... dan pipinya pun memerah...

"T-Tidak...... Itu karena kalian adalah orang aneh yang misterius jadi aku mencoba untuk menangani semua pekerjaan secepat yang aku bisa... Cuma buat itu kok!"

Steph berbicara tergagap selagi Sora mendekatinya.

Detak jantungnya meningkat terus menerus.

Sora berkata, "Lalu, Steph, aku minta maaf karna mengganggumu saat kau sudah sangat kelelahan. Seperti yang Miko-sama katakan, kita akan menuju ibukota Seiren."

“Eh? Ah, ok…… L-Lalu apa?”

Steph menghindari pandangannya.

Tapi Sora melirik ke arah yang berbeda.

Disana ada seorang gadis hitam dengan tampilan kemalangan di wajahnya yang tidak pernah Steph lihat sebelumnya.

"Seiren dan Dhampir akan punah, jadi kita akan pergi menyelamatkan mereka, atau lebih tepatnya..."

Kemudian, dia melanjutkan dengan nada menekan ketika berbicara.

"Kita akan mendapatkan sumber daya dan wilayah mereka. Yang mana dibutuhkan untuk membangun federasi dengan Serikat Timur."

Mendengar deklarasi Sora, mata Steph sedikit terasa panas.

Memang...

Memang benar... Orang ini memikirkan kepentingan Elkia...

Giliran Shiro mendekati dirinya.

"......Steph....Apa kau tahu bagaimana menjahit?......?"

"Sederhananya, kita akan pergi ke pantai. Bisakah kau membuatkan baju renang untuk semua orang? Kami menyerahkan desainnya kepadamu."

--- Dengan kata lain, lebih banyak pekerjaan.

Dengan senyum diwajahnya, Steph pingsan tanpa berbicara sepatah katapun ---.......

List -
Read More

No Game No Life Vol.4 - Bab 1 - Encounter/ The Devil - Part 5


Bab 1 - Encounter/ The Devil

Part 5

"... Tapi kenapa? Kondisinya tidak buruk kan?"

Miko yang tenang mendengarkan situasi, dengan cepat mengungkapkan perasaannya.

"Yah, aku sudah lama menginginkan sumber daya bawah laut Seiren, jadi apa masalahnya? Kau tinggal menyelamatkan mereka dan membuat hubungan baik—bukankah itu menjadi kondisi yang menguntungkan untuk Federasi Elkia?"

Yah, Begitulah Miko—senyum tipis muncul di wajahnya, ia memahami semuanya dengan cepat.

Read More